PREEKLAMPSIA

Pernahkah Sobat semua mendengar istilah Preeklampsia? Atau barangkali ada teman, kerabat maupun keluarga dari Sobat di sini pernah didiagnosa mengalami Preeklampsia oleh Dokter? Pada postingan kali ini, kita akan membahas apa itu Preeklampsia, apa saja tanda dan gejalanya, apa dampaknya bagi ibu dan janin, serta bagaimana penanganan Preeklampsia. Baiklah, saya rasa tidak perlu berpanjang lebar, langsung saja kita mulai ya. Jreng Jreng Jreng....


1. Gambaran

Setiap tahun sekitar 10.000 wanita meninggal karena masalah kehamilan dan persalinan (UNICEF, 2012). Kehamilan sebagai keadaan yang fisiologis dapat diikuti oleh proses patologis yang mengancam keadaan ibu dan janin (Mansjoer, 2001). Menurut WHO terdapat sekitar 585.000 ibu meninggal pertahun saat hamil atau bersalin dan 58,1% di antaranya dikarenakan oleh preeklampsia dan eklampsia (Manuba, 2007).

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2016, angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi yakni 305 per 100.000 kelahiran hidup. Hal ini masih jauh dari target Tujuan Pembangunan Milenium (MDG’s) pada tahun 2015 yakni 102 per 100.000 kelahiran hidup. Kematian ibu akibat preeklampsia dan eklampsia di Indonesia berkisar 1,5 sampai 25%, sedangkan kematian bayi antara 45 sampai 50% (Manuaba, 2010).

2. Pengertian
Preeklampsia merupakan sebuah penyakit spesifik pada kehamilan. Didefinisikan sebagai terjadinya hipertensi dan proteinuria yang signifikan pada wanita yang sebelumnya sehat pada atau setelah 20 minggu usia kehamilan, terjadi pada sekitar 2-8% dari kehamilan (L. Ghulmiyyah dan B. Sibai, 2012). 

Preeklampsia merupakan penyakit yang ditimbul pada kehamilan, dengan tanda-tanda hipertensi (Peningkatan tekanan darah), edema (bengkak) dan proteinuria (adanya kandungan protein pada air seni) yang umumnya terjadi pada trimester ketiga kehamilan, namun dapat terjadi sebelumnya misalnya pada molahidatidosa (Hamil anggur) (Wiknjosastro, 2008).

Cunningham (2006) mengatakan bahwa Preeklampsia merupakan sindrom spesifik kehamilan berupa berkurangnya perfusi organ akibat vasospasme dan aktivasi endotel yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah dan proteinuria. Menurut George (2007), preeklampsia terjadi pada umur kehamilan 37 minggu tetapi dapat juga timbul kapan saja pada pertengahan kehamilan. Preeklampsia dapat berkembang dari preeklampsia yang ringan sampai preeklampsia yang berat.
 
3. Tanda dan Gejala
a. Preeklampsia Ringan
Tanda dan gejala preeklampsia ringan:
  1. Hipertensi ((tekanan sistolik 140 mmHg (meningkat 30 mmHg atau lebih), dan tekanan sistolik 110 mmHg (meningkat 15 mmHg atau lebih)).
  2. Edema (pembengkakan pada wajah, tangan, dan kaki yang menyebabkan penambahan berat badan dengan cepat).
  3. Proteinuria (pada pemeriksaan urine terdapat protein > 5 gr per 24 jam (+1 sampai +2 dengan dipstik)).
b. Preeklampsia Berat
Tanda dan gejala preeklampsia berat:
  1. Hipertensi
  2. Proteinuria (+3 sampai +4 dengan dipstik)
  3. Oliguria (produksi urin kurang dari 400 ml dalam 24 jam) 
  4. Edema paru
  5. Nyeri pada epigastrum 
  6. Gangguan penglihatan
  7. Nyeri kepala hebat 
  8. Edema otak
  9. Gagal jantung 
  10. Pertumbuhan janin terhambat
4. Penyebab
Meskipun belum ada teori pasti yang berkaitan dengan penyebab terjadinya preeklampsia, namun beberapa penelitian menyimpulkan sejumlah faktor resiko yang mempengaruhi terjadinya preeklampsia yakni gravida, usia ibu, riwayat penyakit kronis dan riwayat preeklampsia (Bobak, et. al, 2004). 

5. Faktor Resiko Preeklampsia
Faktor resiko preeklampsia:
  1. Primigravida (Kehamilan pertama)
  2. Nullipara (Belum pernah melahirkan janin hidup)
  3. Usia ibu kurang dari 25 tahun atau lebih dari 35 tahun
  4. Riwayat preeklampsia sebelumnya 
  5. Faktor ras dan etnik
  6. Faktor keturunan (genetik)
  7. Pendidikan yang rendah  
  8. Sosioekonomi rendah
  9. Merokok
  10. Kehamilan ganda
  11. Hidramnion (Kelebihan air ketuban)
  12. Hidrops fetalis (Penumpukan cairan pada tubuh janin)
  13. Mola hidatidosa (Hamil anggur)
  14. Riwayat penyakit ibu seperti riwayat hipertensi, penyakit ginjal, penyakit hati dan diabetes mellitus
Kejadian Preeklampsia makin meningkat dengan makin tuanya umur kehamilan.
 
6. Dampak Preeklampsia
Dampak Preeklampsia pada Janin:
  1. Berat badan lahir rendah
  2. Hipoksia janin (Kekurangan oksigen)
  3. Keterbatasan pertumbuhan intaruterine (IUGR)
  4. Kelahiran Prematur
  5. Kematian janin dalam kandungan
Dampak Preeklampsia pada Ibu:
  1. Solusio plasenta (Lepasnya plasenta dari dinding rahim sebelum proses persalinan).
  2. Hemolisis (Kerusakan sel darah merah)
  3. Perdarahan otak
  4. Kerusakan pembuluh kapiler pada mata hingga terjadi kebutaan
  5. Edema paru (Penumpukan cairan dalam paru-paru)
  6. Nekrosis hati (Kerusakan dan kematian pada sel-sel organ hati)
  7. Kerusakan jantung
  8. Sindrom HELLP
  9. Kelainan ginjal
  10. Kematian ibu
7. Penanganan Preeklampsia 
Penanganan pada preeklampsia ringan yakni mengistirahatkan pasien di tempat tidur, memberikan obat anti hipertensi, pemberian sedatif ringan, menganjurkan untuk mengurangi konsumsi garam, mempercepat dan memperketat jadwal pemeriksaan ibu hamil.

Penanganan pada preeklampsia berat yakni pasien dirawat di ruang isolasi rumah sakit, pemberian sedatif kuat, pemberian magnesium sulfat jika kejang berulang, pemberian glukosa 40% intravena jika terdapat oliguria, penggunaan kombinasi pengobatan, serta mengakhiri kehamilan dengan segera.

Saat ini, terapi utama untuk preeklampsia adalah melahirkan bayi segera setelah bayi siap untuk hidup di luar kandungan untuk meningkatkan kesehatan ibu dan janin. Beberapa terapi yang diberikan pada ibu hamil dengan preeklampsia yakni Magnesium Sulfate, Aspirin, Kalsium, Antioksidan dan Endothelin Antagonis  
                        

Komentar

Posting Komentar